Selasa, 25 Februari 2014

"CARA MENYABUNG KABEL LISTRIK UNTUK SAKELAR+STOP KONTAK LAMPU"


-Saklar, berfungsi menyambung dan
memutus arus listrik sehingga apabila saklar
dipasang sebelum lampu maka kita dapat
mengontrol hidup dan matinya lampu
tersebut.
-Stopkontak, adalah lubang colokan tempat
masuknya steker dari alat elektronik,
umumnya terdapat dua lubang.
-Fitting lampu: tempat/dudukan/mangkuk
lampu, cara memasang lampu ke fitting
umumnya diputar searah jarum jam.
-Tespen: alat untuk menguji apakah suatu
kabel listrik mengandung setrum atau tidak,
terdapat lampu indikator yang akan menyala
bila ujung tespen ditempelkan pada kabel
yang mengandung setrum.
-MCB: alat pemutus atau penyambung listrik
bila terjadi konslet atau kelebihan daya.
umumnya letaknya berdekatan dengan
meteran listrik.
Jumper, cara menyambung dua buah jalur
secara langsung, biasanya menggunakan
kabel.
Klem, alat untuk menjepit kabel ke kayu/
flafon agar kabel terlihat rapi dan kuat tidak
berubah posisi.
Untuk lebih jelasnya tentang pemasangan
ini, silahkan dibaca uraiannya di bawah ini,
Peralatan:
-Obeng plus
-Obeng minus
-Tang buaya/tang monyong(yang dapat
memotong kabel)
-Tespen
-Pisau cutter
Bahan-bahan yang diperlukan:
-Saklar yang bersatu dengan stop kontak/
lubang colokan, satu buah.
-Fitting lampu, satu buah.
-Kabel NYM ukuran 2X1,5mm. panjang
secukupnya disesuaikan dengan kebutuhan.
-klem kabel no.10, satu bungkus.
Isolasi khusus untuk kabel listrik.
Cara memasang:
1. Matikan listrik di rumah anda dengan
memindahkan posisi sakelar MCB dari ON (1)
ke OFF (0).
2. Sambungkan(jumper) salah satu terminal
sakelar dengan salah satu terminal
stopkontak memakai kabel pendek .
3. Sambungkan kabel pendek (pada poin2)
memakai kabel hitam ke kabel positip jalur
utama instalasi listrik(biasanya berwarna
hitam dan bila diuji pakai tespen dan listrik
sedang mengalir maka tespennya akan
menyala).
4. Sambungkan terminal stopkontak yang
satunya ke kabel negatip jalur utama
instalasi listrik.
5. Sambungkan terminal sakelar yang belum
disambung ke mana-mana ke salah satu
terminal fitting lampu.
6. Sambungkan terminal fitting lampu yang
belum disambung, ke kabel negatip jalur
utama instalasi listrik(biasanya berwarna
biru).
7. jangan lupa untuk mengisolasi setiap
sambungan kabel dan memasang klem
kabel dengan jarak antar klem 50cm agar
kabel menjadi kokoh dan rapi.


sumber : https://www.facebook.com/pages/Teknik-Instalasi-Tenaga-LIstrik/235330256592055?ref=stream&hc_location=timeline

"RUMUS-RUMUS DASAR ELEKTRIKAL (DAYA)"

Daya Listrik
Seperti yang telah diketahui daya listrik
dibagi dalam tiga macam daya sebagai
berikut :
1. Daya Nyata (P)
Daya nyata merupakan daya listrik yang
digunakan untuk keperluan
menggerakkan mesin-mesin listrik atau
peralatan lainnya.
Line to netral / 1 fasa
P = V x I x Cos Ø
Line to line/ 3 fasa
P = √3 x V x I x Cos Ø
Ket :
P = Daya Nyata (Watt)
V = Tegangan (Volt)
I = Arus yang mengalir pada penghantar
(Amper)
Cos T = Faktor Daya
2. Daya Semu (S)
Daya semu merupakan daya listrik yang
melalui suatu penghantar transmisi atau
distribusi. Daya ini merupakan hasil
perkalian antara tegangan dan arus yang
melalui penghantar.
Line to netral/ 1 fasa
S = V x I
Line to line/ 3 fasa
S = √3 x V x I
Ket :
S = Daya semu (VA)
V = Tegangan (Volt)
I = Arus yang mengalir pada penghantar
(Amper)
3. Daya Reaktif (Q)
Daya reaktif merupakan selisih antara
daya semu yang masuk pada penghantar
dengan daya aktif pada penghantar itu
sendiri, dimana daya ini terpakai untuk
daya mekanik dan panas. Daya reaktif ini
adalah hasil kali antara besarnya arus
dan tegangan yang dipengaruhi oleh
faktor daya.
Line to netral/ 1 fasa
Q = V x I x Sin Ø
Line to line/ 3 fasa
Q = √3 x V x I x Sin Ø
Ket :
Q = Daya reaktif (VAR)
V = Tegangan (Volt)
I = Arus (Amper)
Sin T = Faktor Daya
sumber : https://www.facebook.com/permalink.php?id=235330256592055&story_fbid=260998010691946

" Rumus Menentukan Diameter Kabel "

1.  Umum
Membahas  mengenai  media  transfer  energi  listrik,  maka  pembahasannya  tidak
terlepas dari kabel yang digunakan. Karena sejauh ini media untuk menghantarkan listrik,
khususnya  untuk  instalasi  tenaga  (power)  masih  membutuhkan  kabel  sebagai  media
penghantarnya,  meskipun  sesuai  dengan  yang  pernah  saya  baca  telah  ada  yang
menemukan  terobosan menggunakan wireless,  tapi  itupun belum banyak digunakan dan
masih dianggap oleh banyak kalangan sebagai sesuatu yang kurang efektif. Oleh karena
itu  landasan  teori  yang  akan  kita  gunakan  dalam  pembahasan  ini  adalah  mengenai
penentuan  diameter  kabel,  kemampuan  dalam  menghantarkan  arus  dan  rumus-rumus
yang digunakan.
Biasanya yang telah banyak dilakukan dalam menentukan diameter kabel untuk
perencanaan sebuah instalasi tenaga adalah dengan menggunakan tabel yang dikeluarkan
oleh pabrikan pembuat kabel tersebut.  Contoh tabel tersebut adalah sebagai berikut :


Akan tetapi bila diperhatikan  tabel dari antara pembuat kabel satu dengan lainnya
angkanya ada yang berbeda, walaupun tidak berbeda jauh. Hal itu bisa dimaklumi karena
dalam  memberi  toleransi  lebih  antara  orang  satu  dengan  lainnya  berbeda.  Perbedaan
angka  tersebut  juga  bergantung  dari  jenis  isolasi  kabel  yang  digunakan,  apakah  PVC
(polyvinyl chloride), TPE (thermo plastis elastomer) atau PUR (polyurithane). Perbedaan
tersebut  juga disebabkan oleh penempatan kabel, apakah ditempatkan di udara bebas, di
tanam dalam tanah atau dalam air.
Dengan bergantung pada tabel tersebut, tentunya sebagian dari kita sebagai orang
listrik  akan  timbul  ketidakpuasan.  Tidak  puas  karena  kita  pernah mempelajari  hukumhukum
  listrik  salah  satunya  adalah  hukum  ohm  yang  pastinya  akan  selalu  ber  korelasi
dengan  penentuan  diameter  kabel  listrik  dalam  kemampuaanya  membawa  arus.
Bagaimana  kalau  tegangan,  panjang  kabel,  jenis  konduktor  yang  akan  kita  gunakan
berbeda, apakah penggunaan tabel tersebut masih berlaku untuk kita jadikan acuan ?
Nah, ini yang akan kita bahas lebih lanjut dalam landasan teori ini.

3.2  Teori Pendukung
  3.2.1  Rumus untuk menentukan diameter kabel
Dalam merencana sebuah instalasi tenaga listrik, maka langkah awal setelah
kita  mengetahui  berapa  tegangan  listrik  serta  daya  yang  dibutuhkan  adalah
menentukan  diameter  kabel  yang  akan  digunakan.  Dibawah  ini  adalah  rumus
dalam menentukan diameter kabel :



Dari  rumus  diatas,  secara  garis  besar  dapat  kita  lihat  bahwa  penampang
kabel  berbanding  lurus  dengan  panjang  kabel  dan  berbanding  terbalik  dengan
tegangan, artinya semakin panjang kabel yang digunakan serta untuk memperoleh
tegangan  yang  konstan  maka  semakin  besar  pula  penampang  kabelnya.  Akan
tetapi pada prakteknya selalu ada saja rugi tegangan pada penghantar, maka dalam
rumus  diatas  disertakan  juga  rugi  tegangan  yang  kita  inginkan  (  ev  ),  yang
nantinya  rugi  tegangan  inilah  yang  akan  berhubungan  dengan  hukum  ohm,
menentukan  I  (arus)  yang dihasilkan.  Jenis konduktor yang dalam  rumus di atas
dituliskan  sebagai  y  atau  daya  hantar  jenis,  juga  akan menentukan  penampang
kabel,  56  untuk  daya  hantar  jenis  tembaga,  32,7  untuk  daya  hantar  jenis
alumunium dan 7 untuk daya hantar  jenis besi. Akan  tetapi  tembaga adalah  jenis
penghantar  yang  paling  umum  digunakan  maka  dalam  rumus  di  atas  yang
dituliskan adalah daya hantar jenis tembaga.

Contoh soal  1:
Sebuah  pemanas  heater  380  volt  10000  watt  rencananya  akan  disambungkan
dengan kabel tembaga dengan panjang 350 meter dari sumber listrik (panel), rugi
tegangan  yang  diinginkan  adalah  5  volt.  Hitung  berapa  diameter  kabel  yang
dibutuhkan ?
Penyelesaian :
q = ( L . N ) : ( y . ev . E )
q = (350 . 10.000) : ( 56 . 5 . 380 )  
q = (3.500.000) : (106.400)
q = 32,8 mm2
Jadi, penampang kawat  tembaga  yang dibutuhkan untuk pemanas heater dengan
instalasi  sepanjang 350 meter adalah 32,8 mm  atau bila   memakai ukuran kabel
yang umum dijual di pasaran adalah dengan ukuran kabel 35 mm2

 3.2.2  Rumus untuk mengetahui resistansi (hambatan) dalam kabel
Hal yang perlu kita ketahui selanjutnya setelah menentukan diameter kabel
adalah mengetahui  resistansinya,  karena  seperti  yang  telah  kita  ketahui  bersama
bahwa  resistansi  inilah  dalam  hukum  ohm  nilainya  akan  berbanding  terbalik
dengan  tegangan  (V)  dan  arus  (I).  Rumus  untuk  mengetahui  resistansi  dalam
kabel adalah :

Karena pada umumnya yang kita ketahui pada kabel adalah diameter penampang,
sedangkan  untuk menggunakan  rumus  di  atas  harus  diketahui  luas  penampang,
maka kita dapat mencarinya dengan rumus :


Contoh soal 2 :
Dari  contoh  soal  no.1  di  atas,  selanjutnya  akan  dapat  kita  ketahui  berapa
resistansinya dengan memakai rumus 1.2 di atas.
Penyelesaian :


3.2.3  Hukum Ohm
Pada suatu rangkaian tertutup, seperti gambar dibawah ini :


Besarnya  arus  I  berubah  sebanding  dengan  tegangan V  dan  berbanding  terbalik
dengan beban tahanan R, atau dapat dinyatakan dengan rumus :


Contoh soal 3 :
Dari contoh soal gabungan no.1 dan 2 di atas dengan menggunakan hukum ohm,
maka kita akan dapat mengetahui kerugian daya listrik yang  ada pada penghantar
sepanjang 350 meter tersebut.

Untuk mengetahui rugi daya yang ada pada penghantar, maka yang kita gunakan
adalah R total, R total adalah penjumlahan R1 dan R2 yaitu = 14,4404332 + 0,175
= 14,6154332
Daya (P) keseluruhan setelah dihubungkan kabel  35  mm2  adalah = I2 . R
P total = 26,3152 .  14,6154332
P total = 692,479225 . 14,6154332
P total = 10120 watt

Rugi daya pada penghantar adalah P total – P beban = 10120 – 10000 = 120 watt
Jadi, dengan demikian dapat diketahui bahwa heater pemanas 10000 watt 380 volt
yang  dihubungkan  dengan  kawat  tembaga  diameter  32,8  mm2  sepanjang  350
meter, rugi dayanya  adalah sebesar 120  watt.

Disamping  faktor diatas,  rugi-rugi  listrik  juga dapat disebabkan oleh media  isolasi yang
tidak baik sehingga arus bocor mengalir. Perhitungan sama arus yang mengalir dikalikan
dengan  besarnya  dari  tahanan  tersebut.  Jika  seandainya  instalasi  kabel  heater  pemanas
diatas memakain  acuan  tabel, maka  kita  dapat  hitung  betapa  banyaknya  rugi-rugi  daya
listrik yang ditimbulkan.

3.3  Jenis Daya Listrik

3.3.1  Daya aktif
Untuk  tenaga  listrik nyata  (wujud)  yang dikeluarkan oleh  arus bolak-balik
yang mempunyai  fasa  adalah :
 
Dalam jumlah usaha nyata/ wujud yang dilakukan oleh arus dan tegangan bolakbalik
 yang mempunyai  fasa  yaitu sebesar :





3.3.2  Daya reaktif (VAR)
Adalah  daya  listrik  yang  secara  electric  bisa  diukur,  secara  vektor
merupakan  penjumlahan  vektor  dari  perkalian E  x  I  dimana  arus mengalir  pada
komponen  resistor  sehingga  arah vektornya  searah dengan  tegangan, dan vektor
yang  arah  90 deg  terhadap  tegangan,  tergantung  pada  beban  seperti  induktif  dan
kapasitif. Biasanya daya yang searah dengan tegangan disebut dengan daya aktif,
sedangkan yang lain disebut dengan daya reaktif.
Untuk  tenaga  listrik  reaktif  yang  dikeluarkan  oleh  arus  bolak-balik  yang
mempunyai  fasa dengan tegangan bolak-balik yaitu :
 
3.3.3  Segitiga daya
Dari  hal  tersebut  diatas,  maka  daya  listrik  yang  digambarkan  sebagai
segitiga siku-siku yang secara vektoris adalah penjumlahan daya aktif dan reaktif
dan sebagai resultannya adalah daya semu atau daya buta.







3.4  Macam – Macam Besaran Listrik dan Satuannya

3.4.1  Tabel Besaran Listrik

3.4.2  Tabel Satuan Turunan

"Rumus Praktis Teori Perhitungan Instalasi Listrik"

v  Rumus untuk mencari tegangan jaringan :  

line = V phase x √3
Keterangan :
V line : tegangan jaringan.
V phase : tenganan antara perminal fase dengan netral.
Pertanyaan :
Diketahui suatu bangunan dengan tegangan jaringan sebesar 380 volt. Berapakah teganan phasenya?
Jawab :
                     V phase= Vline/√3

Sehingga diperolah teganan phase sebesar 219,39 volt. Pembulatan 220 volt.

v  Rumus untuk mencari daya nyata :  P =V x I x cosφ
Keterangan :
P : daya nyata satuannya Watt.
V : tegangan.
I : arus.
cos phi : perbedaan sudut antara teganan dan arus.

Pertanyaan :
Suatu rumah memiliki kapasitas daya nyata sebesar 2000 watt. Jika tegangan yang digunakan adalah 220 volt, dan cos phi sebesar 0,6, tentukan besarnya arus listrik yang mengalir pada rumah tersebut.
Jawab :
I= P/(V cosφ )
Sehingga diperoleh arus sebesar 15,15 ampere.
v  Rumus untuk mencari daya semu :  S = V * I
Keterangan :
S : daya semu satuannya VA.
V : tegangan.
I : arus.

Pertanyaan :
Sebuah kapasitas daya semu yang terpasang pada sebuah rumah adalah sebesar 900 VA.  Jika tegangan yang digunakan adalah 220 volt, tentukan besarnya arus listrik yang mengalir pada rumah tersebut.
Jawab :
               I = S/V
Sehingga diperoleh arus sebesar 4,1 ampere.

v  Rumus untuk mencari daya reaktif :  Q = V * I sin phi
Keterangan :

Q : daya reaktif satuannya VAr.
V : tegangan.
I : arus
sin phi : sudut antara teganan dan arus.
Pertanyaan :
Suatu rumah memiliki kapasitas daya nyata sebesar 2000 watt. Jika tegangan yang digunakan adalah 220 volt, dan cos phi sebesar 0,6, tentukan besarnya daya reaktifnya?
Jawab :
phi = cos-1 * 0,6
    = 53,13
Q = V * I sin phi
Sehingga diperoleh daya reaktif sebesar 2666,4 VAr.

v  Rumus untuk mencari nilai kapasitor :

Q=P (tan2 - tan 1)

C=Q/(2 x π x V^2 )

Jika rumus diatas diterapkan pada system tegangan 220 dan frekwensi 50 Hz (umum dipakai di Indonesia), maka menjadi :
 C=Q/48400
 Keterangan :
Q : daya reaktif.
P : daya aktif.
Tan 2 : nilai tangen dari cos phi yang diharapkan.
Tan 1 : nilai tengen dari cos pi semula.
phi : 3,14
V : tegangan
C : nilai kapasitor dalam farad.
v  Rumus untuk mencari besarnya pembatas     A=Va/V

Keterangan :
A : besarnya pembatas (Ampere).
Va : besarnya daya Semu (VA)
V : besarnya tegangan (volt).

Pertanyaan :
Sebuah kapasitas daya semu yang terpasang pada sebuah rumah adalah sebesar 900 VA.  Jika tegangan yang digunakan adalah 220 volt, tentukan besarnya arus listrik yang mengalir pada rumah tersebut.
Jawab :
            A=Va/V
Sehingga diperoleh arus sebesar 4,1 ampere.

v  Untuk menghitung besarnya Kemampuan Hantar Arus (KHA) suatu kabel dengan beban motor :
KHA (Kemampuan Hantar Arus)
Arus nominal 1 fase : In = P / (V x I x Cos φ)
Arus nominal 3 fase : In = P / (√3 x V x I x Cos φ )
Sedangkan rumus untuk mencari KHA adalah 125% arus nominal.
Keterangan :
I = Arus peralatan (Ampere)
P = Daya masukan peralatan (Watt)
V = Tegangan (Volt)
Cos φ = Faktor daya

KHA= 125% x I nominal
Keterangan :
KHA : besarnya kemampuan hantar arus suatu kabel.
I nominal : arus yang mengalir pada kabel : I = P/(Vcos pi)

Pertanyaan :
suatu instalasi listrik industri memiliki kapasitas motor sebsesar 450 watt, cos pi sebesar 0,8. Sedangkan tegangannya memakai system 220 volt. Tentukan besarnya KHA untuk menentukan kabel yang dipakai?
Jawab :
I= P/(V cospi )

Dari persamaan diatas maka diperoleh I sebesar 2,56 ampere.
Sehingga, besarnya KHA adalah : 2,56 x 125% = 3,2 ampere. Sehingga kabel yang harus digunakan adalah yang dapat menghantarkan arus sebesar 3,2 tanpa ada gangguan dari internal kabel tersebut.
v  Toleransi rugi tegangan pada instalasi listrik penerangan dan tenaga :
Untuk rugi tegangan pada instalasi listrik penerangan maksimal adalah sebesar 2% dari tegangan kerja. Sedangkan untuk rugi tegangan pada instalasi listrik tenaga adalah sebesar 5% dari tegangan kerja.
v  Rumus untuk menghitung tahanan isolasi :

Tahanan isolasi = 1000 x tegangan kerja.

Pertanyaan :
Tentukanlah tahanan isolasi kabel motor minimal yang dibutuhkan jika diketahui tegangan kerja suatu motor adalah sebesar 660 volt.
Jawab :
Tahanan isolasi = 1000x 660 = 660 kilo ohm.

v  Rumus untuk menghitung luas penampang kabel :
Rugi tegangan dalam % :
 q =  ( L   x   U   x   200)/(E x E x λ x U x λ)               
                                  atau             
  q =  (L x I x 200)/(E x p x λ)
v  Rugi tegangan dalam volt :
          q =  (L   x   U   x   2)/( E x ∆v x λ  )     
                                            atau   
          q = ( L x I x 2)/(∆v x λ)
Keterangan :
P : beban dalam watt
f : tegangan antar 2 saluran (fase-netral)
q : penampang saluran (mm2)
∆v : rugi tegangan dalam (volt)
∆U : rugi tegangan dalam %
L : panjang rute saluran (bukan panjang kawat)
λ : daya hantar jenis tembaga = 56, besi = 7, aluminium = 32,7
I : arus beban

v  Rumus menghitung tahanan pada tanau yang digunakan untuk system pentanahan penyalur petir  :
      R= 1/(R1+R2+R3+Rn)
Keterangan :
R : besarnya tahanan sebaran dari elektroda dalam PUIL tidak boleh lebih dari 5 ohm.
R1-Rn : tahanan masing-masing elektroda.
Pertanyaan :
Sebuah bangunan berbentuk persegi akan dipasang sebuah penyalur petir. Jika diketahui akan dipasang 4 elektrode dengan besar hambatan electrode berurutan sebesar 10, 20, 30, dan 40 ohm. Tentukanlah tahanan sebarannya !
Jawab :
Dari rumus perhitungan tahanan sebaran diatas maka diperoleh nilai tahanan sebaran electrode adalah sebesar 0,01 ohm.
v  Untuk menghitung besarnya Kemampuan Hantar Arus (KHA) pada suatu percabangan suatu kabel dengan beban motor :

         KHA = KHA terbesar + I nominal motor yang lain.

Pertanyaan :
suatu instalasi listrik industri memiliki sebuah cabang dengan 3 buah beban motor. Motor 1 memiliki arus nominal sebesar 42A, motor 2 sebesar 54A, dan motor 3 sebesar 68 A. Tentukan besarnya KHA pada percabganan tersebut?
Jawab :
KHA terbesar =125% x Inominal terbesar
Dari persamaan diatas maka diperoleh KHA terbesar sebesar 85 ampere. Sehingga, KHA pada sirkit cabang adalah : 85A + 42A + 54A = 181 A.

v  Rumus perhitungan gawai proteksi sirkit akhir :
Sirkit A = 250% x I nominal motor.
Sirkit B = 200% x I nominal motor.
Sirkit C = 125% x I nominal motor.
            Keterangan :
            Sirkit A : beban motor jenis rotor sangkar.
            Sirkit B : beban motor jenis motor sinkron dengan auto trafo.
            Sirkit C : beban motor jenis motor rotor cincin.
Pertanyaan :
Tentukan gawai proteksi akhir dari 3 buah motor dengan spesifikasi motor 1 rotor sangkar memiliki Inominal sebesar  42 A, motor 2 motor sinkron dengan auto trafo memiliki I nominal sebesar 54 A, dan motor 3 rotor cincin memiliki I nominal 68 A.
            Jawab :
            Sirkit 1 = 250% x 42 = 105 A.
            Sirkit 2 = 200% x 54 A = 108A.
            Sirkit 3 = 150% x 68 A = 102 A.
v  Rumus menghitung gawai proteksi pada cabang :
Gawai Proteksi cabang = gawai proteksi sirkit motor terbesar + jumlah arus nominal motor yang lainnya.
Pertanyaan :
 Tentukanlah besarnya gawai proteksi pada cabang dengan megnacu pada soal rumus perhitungan gawai proteksi sirkit akhir.
Jawab :
Gawai Proteksi cabang = 108+42+68 = 218 A.


v  Rumus menghitung arus start pada motor :
o   Untuk sambungan bintang :

Istart= (Vl/√3)/Zfase

o   Untuk sambungan segitiga :

Istart= (Vfase√3)/Zfase

Keterangan :
Vl : tegangan jaringan.
V fasa : tegangan phasa-nol.
v  Rumus perhitungan arus hubung singkat :

      Isc=Uo/(√((Rt x Rt)+ (Xt x)  Xt) √(3 x))
Pada perhitungan ini, hambatan jaringan atas diabaikan.
Sedangkan reaktansinya adalah :

X=(Uo x Uo)/Psc

Pada transformator, hambatan diabaikan jika daya semu lebih dari 100 KVA. Sedangkan reaktansinay adalah :

X=(Usc x Uo x Uo)/Sn

Pada pemutus tenaga, hambatan dan reaktansi diabaikan.
Pada busbar, hambatan adalah sebaga berikut ini :
R=(ρ L)/A

Sedangkan untuk menghitung besarnya reaktansi apda busbar adalah :

X=0,15 L

Untuk kabel, menghitung hambatannya adalah :

R=(ρ L)/A

Dan untuk menghitung reaktansinya adalah :

X=0,08 L

v  Luas Penampang Kabel
Luas Penampang Kabel 3 fasa :

A = (1.73 * L * I * cos pi) / ( lamda * u)

Luas Penampang Kabel 1 fasa :

A = (2 * L * I * cos pi) / ( lamda * u)
v  Perbaikan Faktor Daya
Faktor daya (Power Factor /Pf)

Pf = P/ V*I = cos pi
Pf adalah : Perbandingan antara daya aktif (kW) dengan daya total (kVA)
Faktor daya menentukan sifat dari beban
Pf lagging : fasa arus tertinggal dengan fasa tegangan (beban induktif)
Pf leading : fasa arus mendahului fasa tegangan (beban kapasitif)
v  Syarat diberlakukan Pertanahan
Instalasi listrik yang menggunakan tegangan yang lebih besar dari 50 V
Harga tahanan Pentanahan (Rp) tidak melebihi 

Rp = 50 / Ia  ohm
IA= k x In
Rp: Tah. Pentanahan
IA : arus pemutusan pengaman arus lebih
In: arus nominal pengaman lebur/ pengaman arus lebih
k : faktor pengali, tergantung karakteristik pengaman
k : 2,5 –5 (pengaman lebur) ; 1,25-3,5 (pengaman lain)
sumber : http://budisetiyo-berkreasi.blogspot.com/2012/06/rumus-praktis-teori-perhitungan.html